Sabtu, 04 Juli 2015

PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL



Puasa merupakan ibadah yang bersifat privat (pribadi), semata-mata hubungan hamba terhadap Allah. Hal ini berbeda dengan ibadah-ibadah lain, dimana keterlibatan dan pengetahuan orang lain begitu nyata. Misalnya Shalat, orang lain dapat melihat kita shalat. Sedangkan puasa? Siapa yang tahu jika kita pura-pura puasa?
Namun demikian, puasa sebagai ibadah yang bersifat sangat pribadi, di dalamnya mengandung ajaran-ajaran sosial masyarakat. Puasa mengantarkan manusia pada kesalehan individu dan kesalehan sosial. Kesalehan individu bersifat ritualistik, sedangkan kesalehan sosial bernuansa sosiologis. Dalam puasa, Allah menjanjikan banyak pahala bagi kita yang melakukan ibadah. Di sisi lain, Allah pun menyuruh kita untuk memberi sedekah, memberi makan untuk berbuka, dan lain-lain. Hal ini merupakan perintah yang jelas bagi kita agar lebih memerhatikan sosial. Oleh karena itu, kata iman di dalam Al Qur’an selalu disandingkan dengan kata ‘amalun shalihun (amal saleh).
Selama ini yang kita kenal sebagai pahala dan dosa selalu dimaknai secara sangat teologis, abstrak, dan eskatologis. Pahala yang dimaknai seolah-olah sebagai tabungan akhirat, sebenarnya harus diorientasikan pada pengertian secara sosiologis. Sebagai contoh, di Indonesia kita harus berjalan di sisi kiri. Jika suatu ketika kita berjalan di sisi kanan, tidak akan menjadi dosa bagi kita. Namun jika kemudian perbuatan kita (jalan di sisi kanan) menyebabkan kecelakaan dan mengganggu orang lain maka akan menimbulkan dosa secara sosial.
Pahala tidak hanya dengan rajinnya kita sholat, puasa, dan ibadah ritual lain. Namun pahala merupakan sesuatu yang mendorong ke arah keseimbangan sosial. Karena itu, puasa yang di dalamnya terdapat larangan untuk tidak makan dan minum dapat dimaknai untuk menjauhi ketamakan dan kerakusan. Menjadi sarana yang melatih diri untuk tidak rakus terhadap apa yang bukan milik kita. Sungguh indah jika kita berpuasa Ramadhan dan melakukan ibadah-ibadah sunnah lain, serta melakukan kebaikan-kebaikan nyata dalam perilaku sosial kita sebagai dampak dari kesalehan pribadi dan wujud dari kesalehan sosial.
[Siti Aminah-AMK KMIP]
Referensi:
Ahmad Baso, dkk. 2003. Islam Pribumi. Jakarta: Penerbit Erlangga

Mengikuti Jejak Generasi Terbaik



Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik” dari Imam Malik rahimahullah. Tak terpungkiri lagi, kita adalah umat terakhir, berada di akhir zaman. Rasulullah Saw, sebagai nabi terakhir telah menyempurnakan segalanya, apa yang telah dibawakan oleh para nabi sebelumnya. Kita memang tidak akan pernah bertemu Rasulullah, para sahabat Nabi, serta umat-Nya zaman itu di dunia ini. Beliau serta umat pada zaman-Nya meninggal jauh sebelum kita terlahir. Namun, kisah-kisahnya merupakan kebenaran sejarah yang nyata terjadi di dunia ini. Sebagai generasi penutup zaman, adanya hanya kepercayaan dan keyakinan atas apa yang telah terjadi di muka bumi. Jelas sekali kisah Rasullah dan para sahabatnya tertuang dalam kitab suci Al Qur’an dan juga As Sunah yang menjadi pedoman hidup kita sebagai manusia di akhir zaman.
Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS At-taubah: 100). Ayat yang mulia tersebut menunjukkan kepada kita bahwa Allah meridhai tiga kelompok manusia, yaitu; [1] Kaum Muhajirin -yaitu para sahabat yang berhijrah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah- lalu [2] Kaum Anshar -yaitu para sahabat yang membantu dan membela dakwah Nabi dari para penduduk Madinah-, dan [3] Orang-orang yang mengikuti mereka -Muhajirin dan Anshar- dengan baik.
Sebuah takdir bahwa kita hidup di zaman yang sekarang ini, memiliki hikmah bahwa kita juga merupakan orang-orang yang terpilih, orang-orang yang beruntung, orang-orang yang diberi rahmat dan ridho oleh-Nya untuk meneruskan perjuangan dari para pendahulu. Kita inilah kaum yang diandalkan, untuk bisa mengikuti jejak-jejak Rasulullah dan para umat-Nya terdahulu.
Telah tertulis yang pertama kali di tulisan ini bahwa, tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik” dari Imam Malik rahimahullah. Kalimat tersebut sangat memberikan makna yang mendalam sebagai perenungan kita. Memang “Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”. Kita adalah kaum yang tidak lebih baik dari kaum pada zaman Rasulullah kecuali kita dapat mengikuti apa yang telah dilakukan dan apa yang telah menjadi jejak-jejaknya selama hidup pada zaman tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisa’: 115)

Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

Tidakkah kita juga menginginkan hal itu? Menjadi umat terbaikNya, jadi sudah jelas, apakah yang harus kita lakukan. Kita tidak mungkin mau disebut sebagai umat yang buruk, serta kemudian Neraka tempat yang pantas kita untuk kembali. Nauzubillah, hidup di dunia ini bukan semata-mata untuk kita bisa bersenang-senang sedangkan kita juga melepaskan kewajiban sebagai umat-Nya. Di dunia ini, kita mengharapkan ridhaNya untuk segala jalan yang kita tempuh.

Pada saat berjayanya peradaban Islam semangat pencarian ilmu sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Semangat pencarian ilmu yang berkembang menjadi tradisi intelektual secara historis dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan para ulama yang datang kemudian dengan merujuk pada Sunnah Nabi Muhammad saw.
Kesuksesan Rasulullah Muhammad Saw dalam membangun peradaban Islam yang tiada taranya dalam sejarah dicapai dalam kurun waktu 23 tahun, 13 tahun langkah persiapan pada periode Makkah (Makiyyah) dan 10 tahun periode Madienah (Madaniyah). Periode 23 tahun merupakan rentang waktu kurang dari satu generasi, dimana beliau Saw telah berhasil memegang kendali kekuasaan atas bangsa-bangsa yang lebih tua peradabannya saat itu khususnya Romawi, Persia dan Mesir.
Seorang ahli pikir Perancis bernama Dr. Gustave Le Bone mengatakan:
“Dalam satu abad atau 3 keturunan, tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat mengadakan suatu masyarakat yang bercelup Perancis. Hal ini terdapat pada seluruh bangsa dan umat, tak terkecuali selain dari umat Islam, sebab Muhammad El-Rasul sudah dapat mengadakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan (23 tahun) yang tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh orang lain”.
Masa kerasulan Muhammad Saw pada akhir periode Madinah merupakan puncak (kulminasi) peradaban Islam, karena disitulah sistem Islam disempurnakan dan ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah ayat 3).
Dapat ditegaskan kembali bahwa, generasi masa itu merupakan generasi terbaik sebagaimana firman Allah Swt: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh” (QS. Ali Imran ayat 110). Generasi itulah yang perlu kita contoh, dan diamalkan sebaik mungkin.
Kita, sebagai generasi muslim yang hidup dalam masa kemunduran umat Islam dalam era globalisasi ini, seharusnya lebih waspada dan lebih berjuang dalam melawan peradaban yang dapat merusak keislaman manusia. Kita tidak dapat membiarkan begitu saja, nafsu dunia menguasai manusia. Harus kita ingat atas perjuangan Rasulullah untuk menebarkan kebaikan dimuka bumi ini, sehingga banyak manusia yang menjadi umat-Nya pada saat itu, dan umat itulah yang dimuliakan. Mereka teguh dalam perjuangan, mengimani Nabi dan Rosulnya, serta senantiasa beriman kepada Allah. Jalan inilah yang juga harus kita pilih, untuk menjadi umat yang baik.

[Lia Rofiatun-AMK KMIP]]

ISRA MI’RAJ



“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(QS Al Isra: 1)

Isra’ secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra’ adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke masjidil Aqsha. Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit.
Dalam perjalanan Nabi SAW saat mencapai langit, Beliau bertemu dengan beberapa Rasul Allah dari mulai lapis langit pertama hingga ketujuh. Pada lapis langit ketujuh, Nabi SAW melanjutkan perjalanannya ke suatu tempat yang dinamakan Sidratul Muntaha, dimana Nabi Jibril tidak mampu melewatinya dan hanyalah Nabi Muhammad SAW yang mampu melewatinya. Hal inilah yang menunjukkan bahwasanya Nabi SAW adalah makhluk yang sangat mulia di hadapan Allah. Di sidratul muntaha Nabi SAW bertemu langsung dengan Allah SWT. Namun di sini meskipun Nabi SAW mendapat kemuliaan tertinggi, beliau tetaplah menjadi seorang hamba Allah SWT.
Isra Mi’raj terjadi setahun setelah tahun kesedihan Nabi SAW, dimana Nabi SAW kehilangan beberapa orang yang sangat dicintainya yaitu Paman (Abi Thalib) dan istri Nabi SAW (Khadijah). Dapat dikatakan bahwasanya tahun tersebut adalah tahun kesedihan mendalam beliau. Namun dengan adanya peristiwa Isra Mi’raj mengisyaratkan bahwasanya seorang hamba akan mendapat kemuliaan di hadapan Allah SWT saat mampu melewati ujian Allah SWT. Saat seorang hamba tetap mampu berpegang teguh pada agama Allah maka apapun yang menimpa pada dirinya maka ia akan menjalaninya dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Karena ia tahu bahwasanya ujian adalah sarana pemuliaan seorang hamba Allah SWT.
Lalu bagaimana dengan perintah shalat? Ya, pada saat peristiwa Isra Mi’raj Nabi SAW mendapat perintah untuk mendirikan shalat. Dikisahkan bahwa perintah shalat pertama turun sebanyak 50 kali dalam sehari, kemudian Nabi SAW meminta keringanan hingga sampailah perintah shalat sebanyak 5 waktu sehari. Mengapa ada proses? Bukankah jika Allah berkehendak maka turunlah perntah shalat sebanyak 5 waktu dalam sehari? Di sinilah Allah menunjukkan kasih sayang Nya kepada hamba-hamba Nya.
Mengapa perintah shalat tidak datang melalui wahyu? Perintah shalat diperintahkan langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, dapat diambil hikmah bahwa barangsiapa yang mempunyai masalah, hubungilah Allah melalui shalat. Shalat adalah pertemuan seorang hamba secara langsung dengan Allah SWT, tanpa melalui malaikat ataupun makhluk lain. Shalatlah dengan khusyu’ dan tenang. Tenang mendatangkan khusyu’ dan khusyu’ itu mendatangkan ketenangan. Tenang dalam membaca Al Fatihah, tenang dalam rukuk, tenang dalam sujud, dan lain sebagainya. Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hambaNya yang beriman dan bertakwa. Aamiin.

[AMK KMIP]