Sabtu, 23 Mei 2015

Menapaki Jalan Kebaikan

“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan”
(QS. Al Maidah: 2)

Allah SWT menciptakan manusia tidak untuk hidup sendiri. Allah menciptakan manusia untuk saling bersaudara, saling tolong menolong, dan saling memberi. Ada banyak kebaikan yang dapat kita lakukan. Kebaikan itu ada di setiap langkah perjalan umat manusia. Kebaikan bersifat membekas, satu kebaikan yang seorang lakukan tidak begitu saja berlalu seperti angin, kebaikan akan membekas di suatu tempat bahkan akan menular dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan saat kebaikan itu terlihat sangat kecil.
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim)
Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani)
Kebaikan-kebaikan kecil akan membawa keberkahan, Allah pun juga menjanjikan balasan bagi orang-orang yang menebar kebaikan kepada sesamanya. Selain itu kebaikan akan memurnikan jiwa dan membersihkan hati.
Dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu salinh memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (HR. Thabrani)
Dari Thabrani meriwayatkan, dari Aisyah ra. bahwa, “Biasakanlah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai.” Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
Semoga Allah SWT senantiasa meringankan langkah kita untuk menapaki jalan kebaikan, yang dengannya Allah SWT meridhoi kehidupan kita. Aamiin.


[AMK-KMIP]

Ber-ILMU untuk Ber-AMAL


“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19)

Ilmu merupakan suatu hal wajib yang harus dimiliki seorang muslim. Ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh, dan bahan bakar bagi perilaku. Menuntut ilmu itu termasuk bagian dari ibadah. Bahkan saking pentingnya ilmu, Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits: “Menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim”.
Betapa pentingnya ilmu bagi manusia, kita diwajibkan mempelajari dan memperdalam sesuai kemampuan kita. Ilmu Allah adalah sebaik-baik ilmu. Dan barangsiapa mempelajari ilmu (agama dan Al Qur’an) merupakan sebaik-baik insan. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhori)
Selain itu, Ilmu juga menghindarkan kita dari laknat Allah SWT, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan-amalan ketaatan, demikian pula orang yang alim atau yang belajar” (HR. Tirmidzi)
Seperti yang telah disebutkan bahwa ilmu itu adalah cahaya bagi manusia, cahaya akan menuntun saat berada di kegelapan. Tanpa ilmu, amalan yang kita lakukan pun tidak akan sesuai dengan syariat Islam. Amalan yang dilakukan tanpa dasar-dasar yang benar.

Ibnu Qayyim berkata:
“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,
“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.”

Lalu ilmu apa yang lebih dulu dipelajari?
Ilmu agama, karena ilmu agama seperti Al Qur’an, Akhlaq, Fiqh, Tauhid, dll yang akan menuntun kita pada amalan-amalan sholih. Amalan sholih inilah yang akan menimbulkan ketaqwaan pada diri kita. Semoga Allah selalu menuntun hamba-hamba-Nya dengan cahaya hikmah-Nya. Aamiin.


[AMK-KMIP]

Kamis, 21 Mei 2015

MANDIRI DALAM KETERBATASAN

Apa mandiri itu? Mmmm tentunya sudah taukan semua.. mandiri yaitu sikap yang dimiliki seseorang untuk mampu melakukan suatu hal tanpa harus banyak tergantung orang lain, tapi bukan berarti sama sekali tanpa orang lain ya..

Mandiri ini sangat luas dan banyak, mandiri dalam mengerjakan tugas, mandiri dalam belajar, mandiri dalam bekerja dan lain-lain. Nah, sebagai remaja yang menginjak dewasa seharusnya seseorang sudah mampu mandiri dalam banyak hal apalagi sudah menjadi mahasiswa. Entah itu mahasiswa FBS, FIP, FIK dan seluruh mahasiswa UNY diharapkan mampu bersikap mandiri, tak terkecuali mahasiswa penyandang disabilitas.


Disabilitas  merupakan suatu kondisi tidakmampuan bagian tubuh seperti mata, tangan, telinga, dll untuk berfungsi normal. Kampus UNY ini mempunyai beberapa mahasiswa penyandang disabilitas seperti tunanetra dan tunarungu, contohnya di FIP. Namun taukah kita bahwasanya mereka dengan ketidakmampuannya bukanlah menjadi penghalang mereka untuk terus menuntut ilmu, seperti seorang mahasiswi tunarungu yang sampai sekarang dengan semangat belajar padahal ia sama sekali tidak mampu mendengar suara. Bukankah sangat sulit saat kita tidak mampu mendengar suara orang lain? Berlainan lagi dengan mahasiswa penyandang tunanetra yang setiap hari harus menyusuri jalan ke kampus, berbekal tongkat dan hafalannya. Merekalah mahasiswa-mahasiswa yang pantas disebut dengan mahasiswa yang benar-benar mandiri. Lalu apa kita tidak malu jika sampai sekarang kita masih manja, banyak mengeluh, minta fasilitas ini dan itu? J

(AMK KMIP)

Selasa, 28 April 2015

DISKUSI KEPENULISAN

Bersama mbak Iva Wulandari (penulis buku “siap menikah tanpa tapi”)


Sabtu, 25 April 2015 di Perpustakaan Masjid Mujahidin

Mengapa Muslimah harus menulis?

Lifestyle zaman sekarang, muslimah yang sibuk, jadwal padat, kecenderungan mencari ilmu yang mudah didapat, jarang yang mau pergi ke kajian dan diskusi. Maka dari itu dibutuhkan media untuk penyampaian ilmu, agar tetap sampai kebaikan pada mereka. Pesan kebaikan tidak hanya berisi hadist dan fiqh, pesan kebaikan dapat dimulai dengan pesan sederhana.
Menulis merupakan sarana dan mengikat ilmu. Menulis adalah pekerjaan orang yang merasa bodoh, pekerjaaan orang yang mau belajar, dan perkerjaan orang yang terbuka dengan kritik.
Saat menulis jangan sekadar menulis yang sedang booming. Menulis dengan mengikuti tren hanya akan terlewatkan. Kenalilah target pembaca dan sederhanakan bahasa. Penulis yang baik mampu menyerdahanakan bahasanya agar mudah dipahami oleh pembaca.
Menulis itu mengeluarkan ilmu yang dimiliki dan dibagi. Ilmu yang hanya disimpan sendiri akan menumpuk dan menjadi penyakit (penyakit hati, seperti riya’). Gunakan menulis sebagai investasi pahala.

Bagaimana menjadi seorang penulis?
  1. Seorang penulis harus mempunyai daya sentuh. Mengapa saya harus menulis? Mengapa harus menulis? Ingat orientasi! Orientasi sebagai landasan menulis.
  2. Dari niat yang benar, Allah membuat tulisan-tulisan kita menyentuh dan bermanfaat.
  3. Penulis harus punya daya isi dan berbobot. Harus peka kondisi, suka berdiskusi dan membaca.
  4. Penulis harus punya daya memahamkan, kaitannya dengan kesederhanaan bahasa.
Yang perlu diingat!
  • Jangan pernah menulis dengan orientasi royalti, ingin best seller atau hanya ingin diterbitkan. Tulislah karena Allah 
  • Beda antara sempat dan menyempatkan diri, punya timeline.
  • Jangan asal produktif (fokus kualitas, tidak hanya kuantitas)
  • Royalti seorang penulis adalah ketika ada yang tergerak kepada hidayah dan kebaikan.
  • Jangan menulis untuk dikenang orang, sampaikanlah kebaikan maka sejarah akan mencatatmu.
Seringkali yang membuat ujung pena terhenti menuangkan kata adalah keinginan untuk melahirkan tulisan yang banyak disanjung orang lain. Sementara yang memecah kebuntuan adalah sikap apa adanya dalam mengungkap kebenaran.

Bagaimana memulai menulis?

Mulailah dengan menulis gagasan itu sendiri. Gagasan yang baik sering tidak tersampaikan karena sibuk memikirkan awalan. Awalan adalah gagasan itu sendiri. Kebanyakan yang dilakukan penulis pemula yaitu menulis sekaligus editing.
Banyak orang yang menunggu mood untuk menulis, padahal mood menulis bangkit karena kuatnya keinginan menyampaikan ilmu. Seorang pemalas mood dijadikan alasan untuk tidak memulai dan meninggalkan sesuatu. Namun para idealis mengendalikan mood untuk menghalau kemalasan.

Apa yang paling mudah untuk ditulis?

Apa yang diyakini, apa yang dialami, dan apa yang dirasakan. Seandainya semua orang punya kecerdasan yang sama untuk menulis, maka KESABARAN lah yang membuat kita berbeda. Kesabaran dalam menuangkan ide dan gagasan masing-masing.

Apa yang harus kita lakukan sebelum menjadi penulis buku?

  • Mulailah dari hal kecil, bangunlah personal branding, paling mudah lewat media sosial. Share apa yang bisa di share dan bermanfaat untuk orang lain.
  • Sering-sering kunjungi web penerbit, lihat syarat dan ketentuan menulis naskah untuk sebuah penerbit.
  • Belajarlah menulis di media cetak seperti koran, cari koran yang tidak hanya menerima dan menolak tulisan kita namun cari koran yang memberi feedback untuk tulisan kita.

Lalu apa yang akan kita tulis?

Segala hal yang ada pada dirimu mampu kamu tuliskan. Setiap langkah dan waktu yang kau lewati selalu terselip hikmah dari Allah SWT.

Kapan kita akan memulai?

Segeralah, sempatkan! Karena manusia tidak pernah selesai dengan urusannya.


“Bukan kecerdasan yang membuat penulis menjadi besar, kehausan pada ilmu lah yang membuat setiap goresan pena menjadi penuh makna”



Baru-baru saja media online heboh dengan adanya berita tentang pengadaan pesta bikini yang mengundang anak SMA di salah satu hotel Jakarta. Sebenarnya apa yang membuat hal itu diributkan? Penyelenggara acara menyatakan rugi karena acara batal ang disebabkan oleh kecaman dari beberapa pihak. Dan menurutnya dilansir dari www.tempo.co ia tidak merasa ada yang salah dari acara yang akan diselengarakan tersebut, sebab acara Spals After Class itu memang untuk murid SMA tapi 18 tahun keatas. Jadi tidak melanggar sebab memang tidak menyertakan anak di bawah umur.  Bagaimana menurutmu apakah kau setuju dengan pendapat di atas bahwa itu bukan suatu masalah??

Pendidikan adalah harapan perbaikan bangsa, dan peserta didik adalah kuncup yang nantinya diharapkan dapat memperbaiki bangsa, namun sepertinya sedikit orang yang memahami, atau sebenarnya sudah paham tapi enggan untuk paham, atau memang sengaja tak menghiaukan. Miris saat membaca berita tentang pesta di atas apa lagi dengan bahasa seolah-olah itu bukanlah sebuah masalah yang perlu diperbincangkan dan dicekam. Pendidikan kita ingin mengembangkan tiga aspek yang diharapkan tertanam dalam diri pesera didik yakni aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Mungkin dari  segi umur memang acara itu tidak bermasalah, tapi dari segi karakter itu sungguh merusak apa yang dicita-citakan dalam pendidikan Indonesia, sisi afektif seolah dihapuskan dan tak lagi dipentingkan. Padaha apa sebenarnya tujuan seseoran menempuh pendidikan??? Dan apa yang ingin dicapai melalui pendidikan?? Pendidikan itu jalan untuk menciptakan manusia cerdas dan berkarakter mulia. 

Penyelenggara memang rugi banyak materi karena acara ini tidak terlaksana, namun jika acara ini terlaksana siapa yang akan rugi?? Dan apakah kerugian itu bisa dibayar dengan uang??  Lalu siapa yang disalahkan nantinya??? Mari berfikir bersama akan dampak yang akan tercipta dari agenda seperti ini. 

Semoga pendidikan kita bukan hanya manis di dalam kelas, namun harapannya benar-benar membentuk manusia cerdas dan berkarakter mulia. namun tentu tugas membentu pribadi bukan hanya tugas sekolah tap perlu juga adanya korelasi dari berbaai pihak termasuk orang tua, siswa, sekolah, pemerintah, juga masyarakat. Semoga kuncup-kuncup penerus bangsa mekar merekah menyebarkan keharuman dan memperbaiki negeri. Mari kita jaga bersama kuncup-uncup itu.

(Umi Layyina-PLB-BASO KMIP)